12 Langkah Inovatif Restoran Luar Negeri Berbisnis di Tengah Pandemi Virus Corona (1)

12 Langkah Inovatif Restoran Luar Negeri Berbisnis di Tengah Pandemi Virus Corona (1)

drive-thru-57e03f0ed0b7228e4bc37d4b5b5ef2e4_600x400
Artikel Restoran – Banyaknya kota dan negara yang melakukan lockdown untuk memperlambat penyebaran virus corona, membuat industri hotel dan restoran mendapatkan tantangan yang besar. Ditambah kebijakan penjagaan jarak sosial (social distancing) dan isolasi diri, orang-orang tidak bisa lagi bebas untuk makan dan minum di restoran. Untuk menghadapi tantangan ini, banyak restoran yang akhirnya berpindah ke layanan bungkus dan bawang pulang (take away) serta pengantaran makanan (delivery).
Beberapa restoran berikut ini terbilang cerdas mengambil langkah inovatif, menyiasati bisnis tetap berjalan di tengah pandemi virus corona. Mereka menciptakan ulang menu serta sistem pelayanan mereka. Berikut ini 12 restoran inovatif dalam melawan pandemi corona seperti dilansir dari Big Seven Travel:
1. Canlis – Seattle, Amerika Serikat
Hal yang biasa mereka lakukan: Tempat makan fine dining kelas dunia. Canlis jadi restoran kelas atas terbaik di Seattle.
Hal mereka lakukan sekarang: Tiga konsep baru untuk menu utama mereka dalam satu hari. Pertama adalah di pagi hari bernama “Bagel Shed”, siang hari “Drive On Thru”, dan di malam hari untuk layanan pengiriman ke rumah disebut “Family Meal”.
2. Guerilla Tacos – Los Angeles, Amerika Serikat
Hal yang biasa mereka lakukan: Taco ala Mexico bergaya makanan jalanan.
Hal yang mereka lakukan sekarang: Sebuah “Emergency Taco Kit” yang satu paket dengan satu roll tisu toilet. Satu set Taco Kit ini berisikan 60 taco dengan harga 2,5 dollar AS atau sekitar Rp 40.500 per taco. Satu paket tersebut berisikan 5 pon atau sekitar 2,2 kilogram ayam panggang, 2,2 kilogram carne asada, 0,5 liter salsa hijau dan merah buatan mereka sendiri, tortilla, bawang bombay, ketumbar, nasi, dan kacang. Ditambah 30 butir telur dan 4 gulung tisu toilet.
3. Fresh Tiki Bar – New Jersey, Amerika Serikat
Hal yang biasa mereka lakukan: Smoothie yang segar, waffle, dan bar jus.
Hal yang mereka lakukan sekarang: Mangkuk smoothie dekonstruksi spesial untuk konsumen agar mereka bisa menata ulang smoothie tersebut di rumah.
4. Grain Brewery – Norfolk, Inggris Raya
Hal yang biasa mereka lakukan: Membuat bir dan menyuplai bir berkualitas ke pub lokal di Inggris.
Hal yang mereka lakukan sekarang: Drive thru untuk bir. Kamu bisa memesan bir dan membayarnya menggunakan pembayaran contactless atau uang tunai, dan pergi ke sebelah untuk mengambil bir pesananmu. Semuanya dilakukan menggunakan kendaraan, seperti layaknya sistem drive thru.
5. Forest Avenue – Dublin, Irlandia
Hal yang biasa mereka lakukan: Restoran bergaya pedesaan yang fokus pada bahan lokal Irlandia.
Hal yang mereka lakukan sekarang: Forest Avenue sekarang beroperasi sebagai toko sembako hijau pada Senin – Sabtu mulai pukul 12.00 – 17.00 dengan sistem pengiriman. Mereka menjual barang-barang terbaik dari produsen kecil di Irlandia dan juga menyediakan tur belanja virtual. Anggota tim mereka bisa menghubungi kamu via video call dan berbelanja secara langsung untuk kamu.
6. Dante – New York City, Amerika Serikat
Hal yang biasa mereka lakukan: Bar koktail dan restoran Italia musiman pemenang penghargaan.
Hal yang mereka lakukan sekarang: Semua koktail ciri khas mereka bisa dibawa pulang, termasuk Negroni on tap. Kamu juga bisa menikmati menu “servis botolan” dari berbagai martini. Untuk 85 dolar Amerika atau sekitar Rp 1,3 juta kamu bisa mendapatkan 10 botol dalam satu batch. Tak itu saja, 1 dollar AS atau sekitar Rp 16.000 dari setiap koktail yang kamu beli akan disumbangkan ke God’s Love We Deliver, sebuah yayasan yang mengirimkan makanan gratis pada orang-orang dengan HIV/AIDS, kanker, dan penyakit serius lainnya.
7. Corrida – Boulder, Colorado, Amerika Serikat
Hal yang biasa mereka lakukan: Restoran steak bergaya Spanyol.
Hal yang mereka lakukan sekarang: Mengirimkan steak yang dimasak sempurna langsung ke rumahmu. Jika kamu memilih untuk memasak steak tersebut di rumah, kepala chef mereka akan mengirimkan kartu instruksi bersama dengan beberapa tips dan trik terbaiknya untuk memasak steak tersebut.
8. Pasjoli – Los Angeles, Amerika Serikat
Hal yang biasa mereka lakukan: Bistro Perancis dengan sajian yang mewah dan kreatif.
Hal yang mereka lakukan sekarang: Makanan siap bawa yang “hampir siap makan” atau setengah matang. Makanan tersebut satu paket dengan instruksi sederhana untuk kamu agar bisa memberikan sentuhan akhir di rumah. Pasjoli juga menjual kue keju Basque yang ikonik yang aslinya berasal dari restoran saudara, Dialogue.
9. 161 Food and Drink – Sydenham, Inggris Raya
Hal yang biasa mereka lakukan: Toko wine organik dengan snack dan keju artisan.
Hal yang mereka lakukan sekarang: Pengiriman wine dan bir gratis selama dua kali dalam seminggu. Tidak ada pemesanan minimum, jadi kamu bisa memesan hanya satu botol juga tidak masalah.
10. Creator – San Fransisco, Amerika Serikat
Hal yang biasa mereka lakukan: Kedai burger unik ini memang selalu inovatif. Menggunakan robot untuk membuat burger mereka.
Hal yang mereka lakukan sekarang: Menambahkan ruang ekstra yang tertutup dan terlindungi dari kontaminasi sebagai ruang operasional restoran. Terdapat pula jendela kecil untuk mengambil makanan yang berkonsep self-sanitazing.
11. Wine Hour at Home – Lisbon, Portugal
Hal ang biasa mereka lakukan: Secara teknis bukan merupakan restoran atau bar. Inisiatif baru ini berasal dari duta wine Claudio Martins dan Chefs Agency.
Hal ang mereka lakukan sekarang: Pencicipan wine secara virtual yag dilakukan dua hingga tiga kali seminggu dengan pembuat wine terkenal. Pencicipan wine virtual ini dilakukan via Instagram live. Kamu bisa melihat wine apa saja yang mereka cicipi dan memesannya secara online.
12. Take Me Home Pastas – Coburg, Australia
Hal ang biasa mereka lakukan: Outlet ‘gnocccheria’ dan pasta segar.
Hal yang mereka lakukan sekarang: Selain berbagai pilihan pasta buatan rumah mereka seperti lasagna dan gnocchi, Take Me Home Pasta juga membantu konsumen menyuplai tepung terigu jika mereka tidak bisa menemukannya di supermarket.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *