Komunitas Hindari Kongkow di Restoran, Manfaatkan Pick Cup

Komunitas Hindari Kongkow di Restoran, Manfaatkan Pick Cup

032364000_1465741827-ramadan-rumi

Pelatihan Restoran – Jangan keluar rumah jika tak perlu dan tetap jalankan protokol kesehatan dengan ketat saat terpaksa harus keluar. Lalu bagaimana dengan Anda yang sering melakukan kongkow bareng teman-teman dan justru memilih sebuah restoran yang justru sangat memungkinkan penyebaran Covid-19?

Atas dasar ini pula banyak komunitas yang memanfaatkan restoran waralaba yang hanya memberikan layanan take away atau hanya bisa dibungkus salah satunya Pick Cup. Tentu ini menjadi solusi bagi mereka yang ingin kongkow lantaran peralatan minum yang mereka pesan pun hanya sekali pakai dan jadi lebih higienis.

“Memang potensi penularan Covid-19 saat kongkow bersama teman-teman ini sangat besar. Untuk itu kita berusaha untuk meminimalkan kongkow atau membuat keramaian di restoran. Namun jika memang ada bahasan yang penting dan tak bisa dihindari, sebisa mungkin memilih tempat kongkow di lokasi yang lebih aman dan bukan di restoran. Kalau terpaksa memesan makan dan minum, juga bisa memanfaatkan restoran yang hanya melayani take away,” klaim Leo, pentolan bikers yang menggunakan motor bergaya petualang tersebut.

Tak Melulu Ngopi
Saat komunitas motor atau mobil ngumpul, minuman berkafein selalu menjadi sajian yang kian mempererat kekariban. Hadirnya Pick Cup mengusung konsep miinuman boba yang tak melulu mengandung kafein, jadi minuman yang juga dipilih oleh komunitas saat kongkow.

Terlebih di masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan work from home (WFH) diterapkan, minuman ini tetap bisa dipesan karena sudah menerapkan konsep penjualan take away. Konsep Quick Serve Retail (QSR) adalah suatu konsep bisnis yang dapat berkembang karena esensial di Indonesia meski dengan protokol kesehatan yang sangat ketat.

CEO & Owner PT. Solomon Utama (Pick Cup Indonesia), Kama Sulaiman optimis bisa menjangkau lebih banyak konsumen bukan hanya komunitas otomotif yang tetap melaksanakan kongkow dengan protokol ketat, namun juga komunitas lainnya.

“Kita tidak boleh hanya berharap bahwa semua akan kembali normal seperti pre-Covid. Kita harus bisa fleksibel dan beradaptasi untuk permintaan dalam kondisi normal yang baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>