Pengusaha Buka-bukaan soal Protokol Khusus di Restoran

Pengusaha Buka-bukaan soal Protokol Khusus di Restoran

5ec362682c54f

Pelatihan Restoran – Pembukaan kembali layanan makan di tempat atau dine-in di restoran-restoran sejumlah wilayah seperti DKI Jakarta dan Kota Bekasi menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku usahanya. Di tengah pandemi virus Corona (COVID-19) ini, para pengusaha harus menerapkan protokol khusus demi mencegah penyebaran Corona di restorannya.

Wakil Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bidang Restoran Emil Arifin mengatakan, ada beberapa protokol kesehatan khusus yang disiapkan para pengusaha.

Misalnya, restoran prasmanan tak lagi membuka layanan sendiri atau selfserve bagi pelanggan, namun semua menunya kini disajikan oleh pegawai. Kemudian, beberapa restoran membuat menu dengan bahan dasar kertas untuk sekali pakai. Sehingga, kertas langsung dibuang demi mencegah penularan melalui menu itu.

“Jadi nggak self serve lagi, sudah nggak ada. Kalau dulu prasmanan kan selfserve, sekarang diambilkan. Lalu menu ada yang kertas jadi sekali buang,” kata Emil kepada detikcom, Rabu (10/6/2020).

Emil mengatakan, penerapan protokol kesehatan di setiap negara, maupun di masing-masing restoran jauh berbeda. Ia merespons soal penerapan fasilitas sekat seperti yang dilakukan sejumlah kedai mie di Vietnam. Menurutnya, tak semua protokol itu bisa diterapkan di Indonesia.

“Yang sudah saya lihat ada restoran pakai acrylic gitu jadi kecil sekali. Di Indonesia ada yang menerapkan seperti itu karena mengikuti luar negeri, tapi dia nggak menyesuaikan dengan operasional dia. Nah ketika dipasang orang jadi males makan di situ. Ada restoran di Jawa Barat (Jabar) saya lihat,” terang Emil.

Ia mencontohkan, misalnya restoran masakan Padang. Menurutnya, restoran itu tak mungkin memasang sekat acylic di setiap meja.

“Kalau menaruh lauk pauk itu sudah nggak bisa. Jadi cuma piring yang ada lauknya saja. Misalnya restoran Padang yang menunya banyak, ya nggak bisa. Jadi tergantung restorannya,” papar dia.

Emil menegaskan, para pengusaha restoran yang tergabung di PHRI sudah menerapkan protokol kesehatan khusus yang disusun bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan mengacu pada aturan World Health Organization (WHO).

“PHRI membuat versi sendiri berdasarkan masukan-masukan, dan juga acuan dari Kemenkes dan WHO. Ini kita sampaikan juga kepada Kemenparekraf. Saya kira itu sudah cukup bagus,” tutup Emil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *