Restoran di Negara Kaya Ini Tawarkan Makan Gratis untuk Buruh Miskin

Pelatihan Manajemen Delivery Service (Pelayanan Penghantaran) Makanan Bagi Restoran Dan Rumah Maka305034_ilustrasi-makanan-timur-tengah_663_382n

Di pinggiran Kota Doha, Qatar, 16 km dari lokasi bangunan-bangunan pencakar langit berlapis kaca dan tampak megah, terdapat sebuah restoran. Melihat dari luar bangunannya, ada tulisan “If you are hungry and have no money, eat for free!!!” yang dalam Bahasa Indonesia diartikan: ‘Jika Anda lapar dan tak punya uang, makanlah dengan gratis.’Restoran itu berada di kawasan industri, 40 menit berkendara ke arah selatan, dari pusat ibukota Qatar. Kawasan tersebut sangat sederhana, berbeda dibandingkan yang lain yang serba mewah di kota yang merupakan satu di antara tempat terkaya di planet ini. Restoran Zaiqa terletak di area sibuk, di seberang sebuah masjid dan di pinggir jalan yang biasa dilalui truk muatan berat. Beroperasi 24 jam sehari, dan tujuh hari dalam seminggu, restoran ini menyediakan masakan India.

Menu Kari Ikan di tempat itu harganya enam riyal, sebutir telur panggang tiga riyal dan sepiring bayam Palak Paneer 10 rial. Agak memberatkan bagi mereka yang berpenghasilan rendah.

Sekitar tiga minggu lalu, dua bersaudara asal India yang punya Restoran Zaiqa memutuskan untuk menawarkan makanan gratis bagi pelanggan yang tak punya uang. ‘Orang-orang perlu makan,” kata satu di antara pemiliknya. Shadab Khan (47) asal New Delhi India mengatakan ide itu datang dari adiknya Nishab.

Makan gratis sesuatu yang meringankan beban para buruh yang bekerja dalam bidang industri berat. Di negara itu diperkirakan ada sekitar 700.000 hingga satu juta pekerja migran, dari populasi total negara kerajaan 2,3 juta orang. Kelompok hak asasi manusia telah mengkritik perusahaan-perusahaan di Qatar karena tidak membayar gaji karyawan tepat waktu.

“Banyak buruh bergaji 800-1000 riyal (sekitar Rp2,85 juta-Rp3,56 juta) per bulan. Mereka harus mengirim uang ke rumah. Di sini biaya hidup mahal, jadi ada orang-orang yang memerlukan makanan gratis,” katanya.Shadab yang berprofesi sebagai pembuat film dan juga pemilik restoran mengatakan buruh yang perlu makan gratis itu sebagian besar pekerja bangunan, yang berasal dari negara-negara seperti India, Nepal dan Bagladesh.

“Kami menyadari banyak orang di sini yang tidak digaji tepat waktu dan tak punya uang, bahkan uang untuk makan,” katanya. Jadi di antara mereka datang hanya membeli paket roti dan air yang berharga satu rial. Pada mereka inilah dia dan adiknya menawarkan makan gratis.

Meski ditawari makan gratis, ternyata banyak juga yang menolak demi kehormatan diri. Mereka merasa malu makan minum begitu saja tanpa membayar. Alhasil, dalam tiga minggu sejak program itu diluncurkan, hanya dua atau tiga orang yang datang untuk makan gratis.

Shadab dan adiknya punya rencana berbeda untuk restoran berikutnya. “Kami akan meletakkan mesin pendingin di luar, Refrigator ini tidak akan dikunci, dan menghadap ke jalan. Di dalamnya ada paket makanan. Jadi siapa saja yang ingin menghambilnya, dia tak perlu lagi masuk ke dalam,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *