Tingkatkan Kompetensi, Sejumlah Pelaku Pariwisata di Kulon Progo Ikuti Pelatihan Table Manner

Pelatihan Restoran – Sejumlah pelaku pariwisata di Kulon Progo mengikuti pelatihan table manner yang diselenggarakan oleh BPC PHRI kabupaten setempat di Rumah Makan Pandan Sari, Selasa (2/3/2021). Ketua PHRI Kulon Progo, Sumantoyo mengatakan pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi bagi pelaku pariwisata khususnya hotel dan restoran. Sebab pada 2020, BPC PHRI Kulon Progo telah menggelar dua kali sertifikasi namun hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. 

“Sehingga sangat disayangkan sekali ketika mereka sudah bayar mahal-mahal tetapi tingkat kelulusannya hanya sekitar 50 persen. Oleh karena itu, sebelum mereka disertifikasi kita bekali dulu ilmu table set dan table manner,” ucapnya usai acara pelatihan. Dengan demikian, mereka mempunyai bekal sebelum mengikuti sertifikasi profesi.

Sebelumnya, BPC PHRI Kulon Progo juga telah memberikan pelatihan dalam bidang pelayanan. 

“Tentu ini menjadi hal yang baru. Mereka yang sebelumnya belum familiar dengan alat-alat. Disini kita mulai perkenalkan kepada mereka,” ungkap Sumantoyo. 

Ia menyampaikan bahwa berbagai pelatihan ini digelar untuk mendukung beroperasionalnya Bandara Yogyakarta Internasional Airport (YIA) yang kemungkinan akan berkembang pesat pada 5-10 tahun mendatang. 

Mengingat dalam kondisi pandemi COVID-19, sehingga pelaku pariwisata yang mengikuti pelatihan ini hanya 30 orang sehingga pelaku pariwisata yang lainnya akan dijadwalkan pada kesempatan yang lain. 

Hal ini juga melihat dana yang dimiliki oleh PHRI Kulon Progo sangat terbatas. Terlebih pada tahun ini, pihaknya harus mengadakan kegiatan sekitar 14 program kerja. Namun baru terlaksana dua program kerja. 

Sementara Wakil Bupati Kulon Progo, Fajar Gegana mengatakan meski secara sumber daya manusia (SDM) telah dipersiapkan untuk mampu melayani wisawatan baik domestik maupun mancanegara, namun ia mengimbau kepada PHRI Kulon Progo harus memperhatikan kearifan lokal. Oleh sebab itu, meski secara teknis mengacu budaya barat, namun secara implementasi harus menyisipkan budaya-budaya lokal.  



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *